Plaosan

Tidak seperti candi atau peninggalan sejarah lain yang ada didekatnya, Candi Plaosan relatif kurang dikenal. Walaupun hanya berjarak sekitar 1 km dari Candi Prambanan dan sekitar 3 km dari situs Ratu Boko, pengunjung candi ini masih cukup sepi. Dengan jalanan lurus beraspal, sebenarnya cukup mudah menuju candi ini, tapi iklan, informasi dan papan penunjuknya masih sangat kurang.

Candi Plaosan terletak di tengah persawahan. Secara administratif berada di Dukuh Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah (bukan Jogjakarta). Sekitar 1 km arah utara jalan Solo-Jogja, atau sekitar 1 km ke arah timur dari Candi Parambanan.

Siddhārtha Gautama, Buddha, Hindu, Vishnu, Dashavatara, Asoka, Dhammashoka, Chandasoka, Kalingga, Maurya, dharma, Kuvera, Kubera, Hariti, Śākyamuni, Yaksha, relief, Bodhisattva, Manjusri, Sarvanivaranaviskambhin, Vajrapani, Avalokitesvara, Samantabhadra, Maitreya, Kishimo-Jin, Klaten, Sri Kahulunan, Samarattungga, Wangsa, Sailendra, Sanjaya Pramodhawardani, Rakai Pikatan, Majapahit

Bangunan utama berupa dua candi induk utara dan selatan yang dikelilingi dengan banyak candi pewara dan stupa.

Candi Plaosan

Stupa. Salah satu stupa yang telah dipugar. Totalnya diperkirakan terdapat 116 stupa. Salah satu penunjuk bahwa Candi Plaosan adalah candi Buddha.

Dalam prasasti Cri Kahulunan (842 M) menyebutkan bahwa Candi Plaosan Lor dibangun oleh Ratu Sri Kahulunan bersama suaminya. Sri Kahulunan adalah gelar Pramodhawardani, putri Raja Samarattungga dari Wangsa Sailendra. Pramodhawardani yang beragama Buddha Mahayana, menikah dengan Rakai Pikatan (840-an M) dari Wangsa Sanjaya yang beragama Hindu. Karena pernikahan ini, penguasa kerajaan Mataram Kuno pun berpindah, dari Wangsa Sailendra ke Wangsa Sanjaya.

Pewara Candi Plaosan

Pewara. Di komplek Plaosan Lor diperkirakan ada 174 candi pewara. Ukurannya kecil dan letaknya berdekatan. Pewara yang tanpa stupa, bentuknya mirip dengan candi-candi Hindu.

Meskipun arsitekturnya lebih menyerupai candi Hindu, tapi dari bangunan stupa, patung Buddha, dan relief yang ada, Plaosan adalah candi Buddha. Diperkirakan dibangun pada sekitar abad 9 M pada masa pemerintahan Rakai Pikatan dari kerajaan Mataram Hindu. Dalam prasasti Cri Kahulunan (842 M) menyebutkan bahwa Candi Plaosan Lor dibangun oleh Ratu Sri Kahulunan bersama suaminya.

Menurut De Casparis, Sri Kahulunan adalah gelar Pramodhawardani, putri Raja Samarattungga dari Wangsa Sailendra (pembangun Candi Borobudur). Pramodhawardani yang beragama Buddha Mahayana, menikah dengan Rakai Pikatan (840-an M) dari Wangsa Sanjaya yang beragama Hindu. Karena pernikahan ini, penguasa kerajaan Mataram Kuno pun berpindah, dari Wangsa Sailendra ke Wangsa Sanjaya, dari Buddha ke Hindu, dan tetap bertahan pada kerajaan-kerajaan Jawa selanjutnya dari Panjalu (Kadiri), Singhasari, sampai Majapahit.

candi induk plaosan lor

Candi Induk Kembar. Candi induk di komplek Plaosan Lor berupa dua candi yang berbentuk dan berukuran sama. Dipisahkan dan dikeliingi oleh pagar batu dengan pintu masuk gapura paduraksa, dengan atap yang dihiasi deretan mahkota kecil.

candi induk plosan lor

Candi Bertingkat. Candi induk ini mempunyai ruang yang bertingkat. Setiap lantai terbagi menjadi 3 ruangan. Lantai pertama digunakan untuk upacara dan pemujaan, sedang lantai dua diperkirakan digunakan untuk menyimpan peralatan upacara atau menyimpan kitab-kitab suci.

Komplek candi dibagi oleh jalan beraspal menjadi dua, Candi Plaosan Lor (Utara) dan Candi Plaosan Kidul (Selatan). Plaosan Lor mempunyai dua candi induk yang dipisah dan dikelilingi pagar batu, dikelilingi candi perwara yang berjumlah 174.

candi induk plosan lor

Jendela. Masing-masing ruang pada tiap lantai terdapat jendela. Memungkinkan cahaya masuk dan udara bersirkulasi dengan baik.

lantai dua plosan lor

Lantai Dua. Papan lantai dua sudah tidak ada, hanya terlihat alur bekas memasang papan tersebut. Dihiasi dengan motif burung merpati.

Komplek Candi Plaosan adalah komplek yang cukup besar, dengan bangunan candi yang cukup banyak, besar (candi induk), dan detail pengerjaan yang sangat baik. Komplek candi dibagi oleh jalan beraspal menjadi dua, Candi Plaosan Lor (Utara) dan Candi Plaosan Kidul (Selatan). Plaosan Lor mempunyai dua candi induk yang dipisah dan dikelilingi pagar batu. Di luar pagar batu, dikelilingi candi perwara yang berjumlah 174, terdiri atas 58 candi kecil berdenah dasar persegi dan 116 bangunan berbentuk stupa. Tujuh candi berbaris di masing-masing sisi utara dan selatan setiap candi utama, 19 candi berbaris sebelah timur atau belakang kedua candi utama, sedangkan 17 candi lagi berbaris di depan kedua candi utama. Sebagaian candi pewara dan stupa sudah direkonstruksi, tapi kebanyakan masih berupa batuan yang berserakan. Di bagian utara juga terdapat mandapa yang atapnya sudah tidak ada.

inkskripsi candi plaosan lor

Inskripsi. Pada beberapa candi pewara terdapat tulisan singkat, yang menunjukkan nama-nama tokoh yang turut membangun candi ini. Selain nama Sri Kahulunan ditemukan juga nama-nama lain yaitu Rakai Pikatan, Rakai Wawa Dyah Galuh, Rakai Dyah Saladu, Rakai Gurun Wangi dan Rakai Sirikan Pu Surya. Rakai adalah sebutan yang berarti ‘penguasa di’, sama seperti sebutan Bhre pada masa Majapahit.

relief induk plaosan lor

Relief Dinding. Bagian menarik Candi Plaosan adalah dinding luar tubuh kedua candi utamanya yang banyak dihiasi oleh relief yang menggambarkan laki-laki dan perempuan yang sedang berdiri dalam ukuran yang mendekati ukuran manusia sesungguhnya. Relief pada dinding candi induk selatan menggambarkan laki-laki, sedangkan pada candi induk utara menggambarkan perempuan.

relief induk plosan lor

Relief Detail. Selain sosok manusia, dinding candi utama juga dihiasi dengan relief dekoratif yang rumit dan halus pengerjaannya. Terlihat seperti motif batik.

Candi Induk Selatan dianggap sebagai candi perempuan dan Candi Induk Utara dianggap sebagai candi laki-laki. Candi yang berpasangan, seperti pasangan raja dan permaisuri yang membangunnya, Rakai Pikatan dan Pramodhawardani. Candi Plaosan adalah simbol kerukunan dan penyatuan, Raja yang menganut Hindu dan permaisurinya yang menganut Buddha.

Komplek Plaosan Kidul lebih kecil luasnya. Candi induknya belum dapat direkonstruksi atau belum ditemukan. Saat ini hanya ada beberapa candi pewara yang bentuknya cukup berbeda dengan yang ada di Plaosan Lor. Kedua komplek ini dianggap satu kesatuan karena ditemukannya parit batu berukuran 440 m x 270 m yang mengelilingi kedua komplek candi. Menurut perkiraan, parit ini digunakan untuk menurunkan air tanah di komplek candi agar tanahnya menjadi padat. Saat ini sebagian besar parit ini masih tertutup tanah yang difungsikan sebagai sawah dan perumahan penduduk.

Candi Induk Selatan Plaosan Lor dipugar pada tahun 1962 oleh Dinas Purbakala, sedang candi Induk Utara dipugar pada tahun 1998 oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala (SPSP) Jawa Tengah. Pemugaran untuk candi-candi pewara juga dilakukan pada tahun 2012. Pada Candi Plaosan Kidul, pemugaran dilakukan Mei 2003.

buddha utara plaosan lor

Arca Dhyani Bodhisattva Samantabhadra dan Maitreya di bilik utara Candi Induk. Samantabhadra dan Maitreya termasuk dalam Delapan Bodhisattva Agung. Samantabhadra adalah Bodhisattva yang berhubungan dengan pelaksanaan meditasi umat Buddha. Bersama dengan Buddha Śākyamuni dan Bodhisattva Mañjuśrī, menjadi trinitas Buddha. Maitreya dipercaya sebagai Bodhisattva penerus Buddha Śākyamuni, yang telah mencapai pencerahan utuh dan mengajarkan dharma murni.

buddha tengah plaosan lor

Arca Dhyani Bodhisattva Vajrapani dan Avalokiteśvara di bilik tengah Candi Induk. Vajrapani adalah Bodhisattva pelindung Buddha, menyimbolkan kekuatan. Sedang Avalokiteśvara adalah Bodhisattva yang mewujudkan belas kasih dari semua Buddha. Bodhisattva adalah makhluk (sattva) yang telah mengalami pencerahan (Bodhi), tapi menunda ke-Buddha-annya untuk membantu makhluk lain mencapai pencerahan dan demi kebahagiaan makhluk selain dirinya di alam semesta.

buddha selatan plosan lor

Arca Dhyani Bodhisattva Mañjuśrī dan Sarvanivārana-Viskambhin di bilik selatan Candi Induk. Mañjuśrī dan Sarvanivārana-Viskambhin termasuk dalam Delapan Bodhisattva Agung, bersama Samantabhadra, Avalokiteśvara, Mahāsthāmaprāpta, Âkāśagarbha (Akasagarbha), Ksitigarbha dan Maitreya. Mañjuśrī adalah Bodhisattva yang berhubungan dengan kebijaksanaan transenden. Sarvanivārana-Viskambhin adalah Bodhisattva yang berhubungan dengan penghilangan semua hambatan untuk kesuksesan meditasi.

mandapa plosan lor

Mandala Bodhisattva. Selain di dalam candi induk, arca Bodhisattva juga banyak terdapat di bangunan mandapa tanpa atap yang ada di bagian utara komplek Plosan Lor. Arca diletakkan dalam formasi mandala.

Keunikan Candi Plaosan yang tidak ditemukan pada candi-candi Buddha lain adalah dua bangunan candi utama yang berukuran sama, kembar, atau mungkin lebih tepatnya berpasangan. Dinding luar Candi Induk Selatan dihiasi relief tokoh-tokoh perempuan, dan banyak terdapat relief burung merpati (bentuknya mirip dengan yang ada di komplek Ratu Boko). Sedang dinding relief Candi Induk Utara dihiasi relief tokoh-tokoh laki-laki, dan banyak terdapat relief singa. Candi Induk Selatan dianggap sebagai candi perempuan dan Candi Induk Utara dianggap sebagai candi laki-laki. Candi yang berpasangan, seperti pasangan raja dan permaisuri yang membangunnya, Rakai Pikatan dan Pramodhawardani. Candi Plaosan adalah simbol kerukunan dan penyatuan, Raja yang menganut Hindu dan permaisurinya yang menganut Buddha.

Pada awalnya Ashoka adalah raja Hindu kejam yang naik tahta dengan memenggal kepala semua saudaranya. Saat penaklukan Kalingga (265 SM) yang mengorbankan lebih dari 100.000 orang, Asoka tersadar dan kemudian menjadi penganut Buddha.

relief plosan lor

Relief dalam Ruang. Selain di luar, di dalam ruang candi juga terdapat relief. Kebanyakan menggambarkan sosok orang dewasa dengan anak-anak disekelilingnya.

kuvera plaosan lor

Relief Kuvera. Pada awalnya Kuvera (Kubera atau Kuwera) dan Hariti istrinya, adalah pasangan pemimpin bangsa Yaksha (raksasa setengah dewa setengah iblis) yang jahat. Mereka suka menculik anak-anak kecil dan memakannya. Pada suatu waktu, Śākyamuni (Gautama Buddha) mencuri Aiji, anak terkecil mereka, dan menyembunyikannya dalam belanga beras. Hariti sedih sekali, dan mencari anaknya kesana kemari, lalu memohon Śākyamuni untuk membantunya. Śākyamuni lalu menanyakan, apakah dia bisa membayangkan penderitaan para orang tua yang anak-anaknya telah dia makan. Hariti tersadar, lalu menjadi pengikut Buddha dan berjanji akan melindungi semua anak-anak. Sejak saat itu, Kuvera dan Hariti dipercaya sebagai dewa pelindung anak-anak. Di Jepang, Hariti disebut Kishimo-Jin.

relief plosan lor

Relief Pewara. Salah satu relief pada candi pewara yang belum di pugar.

Agama Buddha muncul pada sekitar abad 4 SM, dibawa oleh Siddhārtha Gautama (560-482 SM), putra mahkota raja dan permaisyuri negeri Śākya (sekitar Nepal sekarang), Suddhodana dan Mahā Māyā. Pada awalnya agama ini dianggap sebagai salah satu aliran dari Hindu. Siddhārtha yang kemudian mencapai Buddha, dianggap sebagai yang ke-9 dari 10 avatar  Vishnu (Dashavatara, sepuluh manifestasi Vishnu yaitu Matsya, Kurma, Varaha, Narasimha, Vamana, Parashurama, Rama, Krishna, Buddha, dan Kalki). Baru pada saat Ashoka Maurya (304–232 SM) berkuasa, Buddha menjadi agama yang dapat terlihat berdiri sendiri.

Sebagai pengamalan dharma, dalam memerintah, Ashoka mengambil kebijakan anti-kekerasan, toleransi terhadap semua sekte atau aliran agama dan segala pendapat, mematuhi orang tua, menghormati para Brahmana, guru-guru agama dan pandhita, perlakuan manusiawi, baik hati, dan murah hati terhadap semua orang.

Ashoka adalah cucu dari Chandragupta Maurya (320-298 SM) pendiri kerajaan Maurya yang telah menyatukan Bharata (India, Pakistan, dan Afganistan). Pada awalnya Ashoka adalah raja Hindu kejam yang naik tahta dengan memenggal kepala semua saudaranya. Saat penaklukan Kalingga (265 SM) yang mengorbankan lebih dari 100.000 orang, Asoka tersadar dan kemudian menjadi penganut Buddha. Bersamaan dengan besarnya pengaruh kerajaannya, agama Buddha pun berkembang pesat keseluruh dunia, terutama Asia.

candi plaosan

Merpati dan Singa. Hiasan pada tangga candi induk selatan berupa singa, sedang pada candi induk utara dan mandapa berupa burung merpati. Bentuk burung merpati juga ada di komplek Ratu Boko.

teras plaosan lor

Pradaksina. Lantai kaki candi induk cukup lebar, dapat untuk berjalan-jalan. Mungkin dulunya dipakai juga untuk Pradaksina, prosesi mengelilingi tempat suci searah perputaran matahari atau jarum jam.

Batu Baru. Untuk pemugaran candi, tidak semuanya menggunakan batu asli candi. Beberapa bagian yang tidak ditemukan, atau yang sudah rusak berat diganti dengan batu yang baru.

Raja Ashoka yang telah berganti julukan, dari Chandashoka (Ashoka yang Kejam) menjadi Dhammashoka (Ashoka penganut Dharma), melakukan banyak perubahan dalam pemerintahannya. Sebagai pengamalan dharma (ajaran sang Buddha dan kebenaran yang ditunjukkannya),  dalam memerintah Ashoka mengambil kebijakan anti-kekerasan, toleransi terhadap semua sekte atau aliran agama dan segala pendapat, mematuhi orang tua, menghormati para Brahmana, guru-guru agama dan pandhita, perlakuan manusiawi, baik hati, dan murah hati terhadap semua orang. Warisan ajaran toleransi Ashoka ini menyebar ke seluruh dunia dan dapat bertahan sampai ratusan bahkan ribuan tahun setelah kematiannya. Seperti yang dapat terlihat di Candi Plaosan ini.

Plaosan Kidul

Plaosan Kidul. Saat ini hanya terdapat beberapa candi pewara yang mempunyai bentuk yang sangat berbeda. Candi induknya belum ditemukan.

parit candi plaosan

Parit. Komplek Candi Plaosan dikeliling parit batu yang cukup lebar. Sebagian besar parit masih tertutup tanah sawah dan pemukiman penduduk.

Candi Plosan

Candi Plaosan. Diantara Plaosan Lor dan Kidul, dan disekitarnya masih banyak misteri candi yang belum digali, menunggu untuk ditemukan.

[Bahanbaca]

  • Khoirul

    Bagus-bagus gan fotonya, Ini foto-foto di-take Pake Camera + Lensa ape ya gan ?

    • avivalyla

      trims… sekarang kebanyakan pake kamera NIkon D5100 + lensa kit. kl yg dulu macem?, dari pocket Canon, Samsung, HP Nokia, dll. Metadatanya masih ada semua kok..

Mencari Sesuatu?

Masukkan kata kunci pada form berikut untuk mencaricari sesuatu di situs ini.

Masih belum menemukannnya? Tulis komentar pada sebuah tulisan, pada shutbox disamping, atau kontak kami!

Tag, Tag, Tag... !

Checkpagerank.net