Cetho

NIKON D5100 (20mm, f/3.8, 1/4000 sec, ISO160)

Cetho (Jawa) dalam bahasa Indonesia berarti ‘jelas’ atau ‘terang’. Konon disebut Cetho karena dari tempat ini bisa melihat  jelas  ke berbagai arah. Ke arah utara terlihat pemandangan Kabupaten Karanganyar dan Kota Solo dengan latar belakang Gunung Merbabu dan Merapi serta Sumbing. Ke arah barat dan timur terlihat bukit-bukit hijau membentang, sedangkan ke arah selatan terlihat punggung dan anak-anak Gunung Lawu. Ada juga yang berpendapat, disebut Cetho karena di candi ini banyak terdapat simbol-simbol yang men‘ jelas’kan tentang kehidupan dan sifat-sifat duniawi manusia.

Candi Cetho adalah candi Hindu yang terletak di Dukuh Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah, pada ketinggian 1496 mdpl. Dibangun pada abad ke 16 oleh Prabu Brawijaya V Bhre Kerthabumi (?-1478), Raja Majapahit terakhir. Menurut Serat Kanda, Majapahit dikalahkan oleh Raden Patah, anak Brawijaya V dan Ratu Dwarawati, seorang muslim Campa. Raden Patah lalu mendirikan kerajaan Islam Demak.

Candi Cetho

Penggalian. Foto-foto penggalian pertama kali Candi Cetho tahun 1928 oleh Dinas Purbakala Hindia Belanda.

Pada tahun 1842, candi ini ditemukan oleh Van der Vlis dan baru pada 1928 dilakukan ekskavasi oleh Dinas Purbakala Hindia Belanda. Cetho menarik banyak perhatian para ahli untuk meneliti seperti W.F. Sutterheim, K.C. Crucq, N.j. Krom, A.J. Bernet Kempers, dan Riboet Darmosoetopo. Pada tahun 1975-1976, asisten pribadi dan penasehat spritual Persiden Soeharto, Sudjono Hoemardhani, melakukan pemugaran candi menjadi seperti yang terlihat sekarang ini.

Gerbang Candi Cetho NIKON D5100 (18mm, f/4, 1/1250 sec, ISO400)

Gerbang pertama Candi Cetho. Ini adalah gerbang teras yang paling lebar dan paling tinggi.

Kompleks Candi Cetho memanjang barat ke timur dengan ukuran panjang 190 m dan lebar 30m, dengan arsitektur halaman berteras dengan susunan 13 teras meninggi ke arah puncak, mirip dengan dengan bangunan punden berundak pada masa megalitikum prasejarah pra-Hindu.

Candi Cetho NIKON D5100 (20mm, f/5.6, 1/50 sec, ISO200)

Petilasan Ki Ageng Krincingwesi, leluhur masyarakat Dusun Cetho. Ada pada teras ke dua.

Arsitektur ini sangat unik dan sangat jarang dijumpai di Indonesia, dan menyimpang dari ketentuan dalam kitab pedoman pembuatan bangunan suci Hindu, Vastu Vidya. Menurut ketentuan, sebuah candi harus berdenah dasar bujur sangkar dengan tempat yang paling suci terletak di tengah. Bentuk teras berundak adalah ciri khas bangunan suci pada masa pra-Hindu. Ciri khas lainnya adalah tempat yang paling suci terletak di bagian paling tinggi dan paling belakang. Arsitektur semacam ini juga ada di komplek Candi Sukuh yang berjarak sekitar 3 km dari sini.

Pemugaran Candi Cetho dilakukan pada 9 teras saja.  Teras pertama adalah halaman gerbang candi. Teras ini terdiri dari 4 undakan (tangga). Pada undakan ke 2 dan 3 terdapat arca-arca manusia yang tidak merujuk pada dewa tertentu dan sampai sekarang belum dapat diidentifikasi. Teras kedua adalah halaman setelah gerbang utama. Di teras ini terdapat petilasan Ki Ageng Krincingwesi, leluhur masyarakat Dusun Cetho.

Bentuk palus mendatar besar dan memanjang sebagai simbol nafsu badani manusia. Simbol yang sama juga ada di Candi Sukuh, yang di letakkan di bawah gapura masuk candi, dibuat sengaja untuk diinjak. Kura-kura menggambarkan dunia bawah, bahwa manusia pada dasarnya hanya meminta. Kura-kura yang lebih kecil dengan bentuk yang sama juga ada pada pijakan beberapa tangga naik ke teras, juga sengaja untuk diinjak.

Candi Cetho NIKON D5100 (18mm, f/3.5, 1/1600 sec, ISO800)

Teras ketiga adalah teras yang banyak terdapat ornamennya, kebanyakan berupa hewan. Peletakannya yang ada di bawah, sejajar dengan tanah, ada  yang berpendapat bahwa ornamen-ornamen di teras ini mencerminkan simbol-simbol sifat duniawi. Secara berurutan dari depan ke belakang, ornamen batu yang ada adalah palus, segitiga sama sisi dengan bermacam hewan, matahari di kanan kiri segitiga dan di belakangnya, dan terakhir kura-kura yang menaiki burung garuda.

Teras ketiga adalah teras yang paling banyak ornamennya, berupa susunan batu dan relief yang mendatar di tanah. Susunan batu paling besar berbentuk kura-kura yang menaiki burung garuda. Di depannya terdapat susunan batu berbentuk segitiga sama sisi dengan relief-relief binatang berupa tiga ekor katak, seekor mimi-mintuno, kepiting, belut, dan tiga ekor kadal yang menjadi sengkalan memet (simbolisasi angka tahun dengan bentuk binatang, tumbuhan, dan sebagainya). Menurut Bernet Kempers, relief kepiting, belut, dan mimi-mintuno adalah sengkalan yang berbunyi welut (3) wiku (7) anahut (3) iku=mimi-mintuno (1), sehingga ditemukan angka tahun 1373 Saka atau 1451 M. Susunan batu lainnya adalah matahari bersinar tujuh dan Kalacakra (lingga, phallus).

Candi Cetho NIKON D5100 (29mm, f/4.5, 1/250 sec, ISO250)

Ornamen. Beberapa ornamen batu pada pelataran teras ketiga. Kura-kura besar, matahari, dan tiga ekor kadal dan katak dalam susunan batu segitiga sama sisi.

Candi Cetho NIKON D5100 (26mm, f/6.3, 1/250 sec, ISO200)

Ornamen lain di segitiga sama sisi. Ada tiga relief hewan, masing-masing satu, yaitu kepiting, belut, dan  mimi-mintuno.

Katak adalah hewan yang suka meloncat-loncat, sebagai simbol sifat manusia yang suka berubah-rubah, sering marah, dan tidak menerima apa adanya (‘nrimo’).  Kepiting adalah hewan yang suka menjepit, sebagai simbol manusia yang suka memaksakan pendapat, mendikte, menguasai dan memburu jabatan. Belut menggambarkan sifat licik manusia yang suka berkelit. Sifat baik manusia di lambangkan dengan mimi-mintuno, hewan laut yang hidup berpasangan sampai maut memisahkan, sifat setia.

Penafsiran lain menyebutkan, bentuk dan relief susunan batu ini adalah simbol kehidupan duniawi manusia, dan karena itu berada di tingkatan bawah. Bentuk palus mendatar besar dan memanjang sebagai simbol nafsu badani manusia. Simbol yang sama juga ada di Candi Sukuh, yang di letakkan di bawah gapura masuk candi, dibuat sengaja untuk diinjak.  Kura-kura menggambarkan dunia bawah, bahwa manusia pada dasarnya hanya meminta. Kura-kura yang lebih kecil dengan bentuk yang sama juga ada pada pijakan beberapa tangga naik ke teras, juga sengaja untuk diinjak.

Candi Cetho NIKON D5100 (22mm, f/4, 1/1600 sec, ISO720)

Kuncup. Pada beberapa gapura teras terdapat ornamen kuncup bunga yang belum mekar, sebagai simbol bahwa manusia seharusnya jangan hanya mengandalkan keharuman nama.

Simbolisasi lain yang lebih banyak terdapat pada hewan-hewan dalam susuan batu segitiga sama sisi yaitu katak, kepiting, belut, dan mimi-mintuno.  Katak adalah hewan yang suka meloncat-loncat, sebagai simbol sifat manusia yang suka berubah-rubah, sering marah, dan tidak menerima apa adanya (nrimo).  Kepiting adalah hewan yang suka menjepit, sebagai simbol manusia yang suka mamaksakan pendapat, mendikte, menguasai dan memburu jabatan. Belut menggambarkan sifat licik manusia yang suka berkelit. Sifat baik manusia di lambangkan dengan mimi-mintuno, hewan laut yang hidup berpasangan sampai maut memisahkan, sifat setia.

Sedang tiga buah batu dengan reliaf matahari dengan tujuh sinar diperkirakan adalah simbol Kerajaan Majapahit.

Pada teras keempat terdapat terdapat batu-batu yang tertata segi empat dengan relief cuplikan kisah Sudhamala, seperti yang terdapat pula di Candi Sukuh.

Teras kelima dan keenam terdapat bangunan pendapa di bagian kanan dan kirinya, mengapit jalan tengah candi. Pendapa-pendapa ini dibangun saat pemugaran tahun 1976. Masih digunakan sebagai tempat upacara-upacara keagamaan di Candi Cetho.

Candi Cetho NIKON D5100 (18mm, f/3.5, 1/200 sec, ISO400)

Pendapa yang ada di teras kelima dan keenam. Biasa digunakan untuk istirahat atau digunakan untuk ritual keagamaan pada hari-hari tertentu.

Candi Cetho NIKON D5100 (24mm, f/4, 1/1600 sec, ISO1600)

Arca-arca. Berturut-turut dari kiri ke kanan adalah arca abdi dan penasehat spiritual Brawijaya V, Sabdopalon dan Nayagenggong, ada di teras ke tujuh, lalu arca palus (Kuntobimo) dan arca Prabu Brawijaya V dalam wujud mahadewa di teras ke delapan. Arca palus selain menggambarkan kesuburan manusia, juga mencerminkan gemah-ripahnya bumi yang wajib disyukuri.

Naik ke teras ketujuh terdapat arca Sabdapalon, di sisi utara, dan Nayagenggong, di selatan. Sabdopalon dan Nayagenggong adalah abdi dan penasehat spiritual Sang Prabu Brawijaya V. Beberapa berpendapat bahwa dua orang ini sebenarnya adalah satu orang. Di teras ini juga terdapat bangunan dari kayu yang digunakan untuk menyimpan benda-benda pusaka.

Candi Cetho NIKON D5100 (18mm, f/3.5, 1/2500 sec, ISO400)

Pusaka. Pada teras ke tujuh dan delapan, mempunyai susunan ruang yang sama, masing-masing sepasang di bagian kanan dan kiri, yaitu bangunan tertutup untuk menyimpan pusaka, bangunan untuk arca, dan bangunan kecil untuk istirahat atau atau ritual upacara.

Pada teras kedelapan terdapat arca lingga vertikal (Kuntobimo) di sisi utara dan arca Prabu Brawijaya V dalam wujud mahadewa. Seperti teras sebelumnya, di teras ini juga terdapat bangunan kayu untuk menyimpan pusaka Empu Supa, seorang pembuat senjata pusaka yang terkenal dan dihormati pada masa hidupnya.

Candi Cetho NIKON D5100 (48mm, f/9, 1/200 sec, ISO200)

Kubus. Satu bangunan paling menarik adalah bangunan pada teras paling atas, berupa susunan batu hitam berbentuk kubus polos dengan ornamen yang sangat minim sekali. Berbeda dengan kebanyakan bangunan keagamaan lain yang biasanya beratap lancip (limas, kerucut, piramid) sebagai axis mundi – simbol pusat dunia yang mengarah ke langit – atap kubus ini datar saja. Ada yang menyebut, bangunan ini mirip Ka’bah di Makkah, Arab Saudi.

Candi Cetho NIKON D5100 (55mm, f/10, 1/200 sec, ISO200)

Yang Pertama. Tepat di bagian tengah atas kubus, tertulis sebuah huruf Jawa, ‘Ha’. Ha adalah aksara pertama dalam abjad Jawa, kadang digunakan untuk simbol Yang Pertama, atau Tuhan. Sama seperti huruf ‘alif’ dalam abjad arab, atau aksara ‘Om’ dalam Hindu.

Tepat di bagian tengah atas kubus, tertulis sebuah huruf Jawa, ‘Ha’. Ha adalah aksara pertama dalam abjad Jawa, kadang digunakan untuk simbol Yang Pertama, Yang Esa, atau Tuhan. Sama seperti huruf ‘alif’ dalam abjad Arab, atau aksara ‘Om’ dalam Hindu.

Teras paling tinggi, teras kesembilan, terdapat bangunan batu berbentuk kubus polos tanpa ornamen, berukuran 2,5×2,5 m. Ini adalah bangunan paling suci di candi ini. Pada hari-hari biasa pintu besinya terkunci dan tidak dapat dimasuki. Pintu masuk ke teras terakhir ini sangat sempit, hanya cukup untuk satu orang. Menyimbolkan bahwa untuk urusan dengan Sang Penguasa Semesta itu bersifat pribadi, tanggung jawab masing-masing, tidak bisa bergantung pada orang lain.

Selain simbol-sombol yang banyak ada, komplek Candi Cetho juga menyimpan banyak misteri. Terutama dari arsitekur, batuan penyusun candi, dan beberapa arca yang ada.

Candi Cetho NIKON D5100 (18mm, f/3.5, 1/2000 sec, ISO400)

Piramida. Bangunan dasar teras ke sembilan mirip dengan bangunan pemujaan Suku Maya di Meksiko.

Candi Cetho NIKON D5100 (18mm, f/3.5, 1/2000 sec, ISO400)

Batuan. Arsitektur komplek candi berbentuk punden berundak seperti banyak dijumpai pada peninggalan era megalitikum. Dari batuan yang menyusunnya, terlihat juga candi ini seperti terdiri dari dua pengerjaan yang berbeda, kasar dan halus. Ada dugaan bahwa kemungkinan candi ini berumur jauh lebih tua dari yang tertulis pada prasasti gapura teras ke tujuh. Angka tahun 1397 Saka (1475 M) kemungkinan merujuk pada pemugaran candi ini oleh pemerintah kerajaan masa itu.

Candi Cetho NIKON D5100 (18mm, f/3.5, 1/1600 sec, ISO560)

Arca Persia. Beberapa arca belum dikenali. Seperti pasangan arca laki-laki dan perempuan yang ada di teras pertama undakan ke dua. Dengan memperhatikan bentuk wajah, model kepala, rambut, perhiasan dan pakaian, ada yang menghubungkannya dengan patung bangsa Sumeria yang hidup 3000 SM di Persia (Iran sekarang).

Candi Cetho terletak di perbukitan yang sejuk, di lereng Gunung Lawu. Kabut yang sering turun, seolah semakin menyelimuti misteri kisah-kisah yang belum tersampaikan oleh tumpukan batu-batu diam ini.

Sarasvati, Candi Cetho DCR-SR200E (32.1mm, f/4, 1/425 sec, ISO0)

Sarasvati. Sekitar 20 meter lurus atau 100 m melalui jalan setapak melingkar dari Candi Cetho, terdapat Puri Saraswati, dewi Sumber Segala Ilmu Pengetahuan. Disini terdapat arca Dewi Saraswati, hadiah dari Kabupaten Gianyar, Bali tahun 2004. Dewi Sarasvati diwujudkan secara lengkap dengan busana putih bersih berkilauan, alat musik (wina/ sejenis gitar), memegang kitab pustaka (kropak), aksamala (genitri/ tasbih), bunga teratai (kumbaja), didampingi wahana berupa burung merak dan angsa putih. Setiap 210 hari sekali, tepatnya pada Saniscara Umanis (Sabtu Legi) wuku Watugunung, di tempat ini diadakan upacara peringatan Hari Raya Sarasvati atau Pawedalan Sang Hyang Aji Sarasvati.

Kemuning, Candi Cetho NIKON D5100 (18mm, f/6.3, 1/500 sec, ISO400)

Kemuning. Candi Cetho terletak di perbukitan dengan ketinggian 1496 mdpl. Perkebunan teh yang luas menghijau ini akan dilewati saat menuju ke candi.

[Bahanbaca]

Mencari Sesuatu?

Masukkan kata kunci pada form berikut untuk mencaricari sesuatu di situs ini.

Masih belum menemukannnya? Tulis komentar pada sebuah tulisan, pada shutbox disamping, atau kontak kami!

Tag, Tag, Tag... !

Checkpagerank.net